Pada materi kuliah 1.1 kita sudah membahas konsep ekologi, mendefinisikan ekologi manusia, dan perlunya mempelajari ekologi manusia. Hal ini kita lakukan karena dari namanya bahwa manusia merupakan keterangan dari ekologi, kita mengasumsikan bahwa ekologi manusia sebagai bidang ilmu menginduk pada ekologi. Namun dari uraian mengenai mengapa perlu mempelajari ekologi manusia, tersirat bahwa ekologi manusia menggunakan pendekatan yang jauh berbeda dari ekologi. Dengan kata lain, apakah ekologi manusia adalah menginduk pada ekologi atau pada bidang ilmu lain akan kita bahas pada materi kuliah ini. Sekaligus kita akan membahas sifat kajian dari ekologi manusia: (1) posisi manusia dalam ekosistem yang dikaji dalam ekologi manusia dan (2) pendekatan yang digunakan untuk melakukan kajian.
1.2.1. MATERI KULIAH
1.2.1.1. Membaca Materi Kuliah
Bidang Ilmu Apa yang Menjadi Induk dan Kapan Ekologi Manusia Menjadi Bidang Ilmu?
Ekologi manusia sebenarnya merupakan bidang ilmu yang masih relatif baru. Sebagaimana halnya bidang ilmu baru lainnya, ekologi manusia berkembang dari bidang ilmu lain. Bidang ilmu apakah yang menjadi induk dari ekologi manusia, apakah ekologi atau bidang ilmu lain? Jika yang menjadi induk bukan ekologi, bagaimana sampai bisa bernama ekologi manusia? Sebelum menjawab pertanyaan ini, Anda perlu memahami bahwa suatu bidang ilmu baru dapat berkembang sebagai cabang dari satu bidang ilmu tertentu dengan objek kajian yang lebih khusus, atau sebagai cabang dari satu bidang ilmu yang menggunakan bidang ilmu lain dalam melakukan kajiannya, atau sebagai gabungan dari cabang dua atau lebih bidang ilmu lain. Contoh yang pertama adalah ekologi tumbuhan sebagai cabang dari ekologi yang secara khusus mempelajari tumbuhan dengan menggunakan konsep-konsep ekologi dasar. Sebagai contoh yang kedua adalah ekologi kuantitatif yang merupakan cabang ekologi yang menggunakan matematika dan statistika dalam kajiannya. Contoh yang ketiga adalah astrobiologi yang merupakan cabang dari astronomi dan biologi untuk mengkaji kehidupan di luar planet bumi.
Penggunaan istilah ekologi manusia paling awal ditemukan pada awal tahun 1900-an di kalangan ahli ekologi hewan, yang, sebagai hasil dari mempelajari tren populasi tumbuhan dan hewan, menyarankan bahwa prinsip-prinsip ekologi juga diterapkan pada hubungan manusia dengan lingkungan alami. Kemudian, para ilmuwan populasi menggunakan konsep-konsep ekologi -- seperti ekosistem, relung ekologis, mekanisme umpan balik, stabilitas, dan pertumbuhan-- untuk mengkaji masalah pertumbuhan populasi dan dampaknya terhadap kerusakan lingkungan; yang menjadi sangat menonjol pada tahun 1960-an dan 1970-an sebagaimana dalam karya Paul Erhlich, Anne Erhlich, dan John Holdren pada 1973. Masih dalam dekade 1970-an, Urie Bronfenbrenner (1979) mengembangkan model ekologi pembangunan manusia untuk memahami hubungan timbal balik antara individu dan berbagai unsur lingkungan di mana mereka tinggal.
Para antropolog menggunakan konsep ekologi untuk mempelajari sejarah dan budaya kelompok manusia dan masyarakat untuk menjelaskan keberhasilan, kegagalan, atau adaptasi mereka. Konsep keseimbangan, pergerakan sumber daya, pembangunan berkelanjutan, dan adaptasi sistem organisasi telah diterapkan pada studi tentang keluarga, komunitas, hubungan ras, sekolah, tempat kerja, instansi pemerintah, dan lembaga sosial lainnya. Para sosiolog -- antara lain Park dan Burgess (1920-an), Frazier dan Sutherland (1930-an), dan Janowitz (1950-an)-- menggunakan konsep ekologi dalam mengkaji isu-isu penting seperti dampak pemukiman manusia terhadap pola penggunaan lahan (misalnya, pola arus lalu lintas, air, dan sebagainya, dan pengelolaan banjir), sejarah yang saling terkait antara perkembangan industri dan kerusakan kota, hubungan ras, dan pelarian orang kulit putih ke pinggiran kota --dengan kata lain, komponen perencanaan kota dan wilayah. Persoalan mendasarnya adalah memahami bagaimana tuntutan akan ruang dan sumber daya mempengaruhi perkembangan komunitas dan organisasi bisnis di lanskap perdesaan dan perkotaan, dan bagaimana lingkungan mempengaruhi struktur dan batasan yang diterapkan oleh sistem sosial manusia.
Pada dekade 1920-an dan 1930-an, Departemen Sosiologi di Universitas Chicago menggunakan pendekatan ekologi yang berfokus pada penggunaan teori dan metode penelitian lapangan untuk memahami perilaku manusia. dan organisasi di lingkungan perkotaan. Para pakar seperti Ernest Burgess dan Robert E. Park menggunakan konsep ekologi untuk menjelaskan perkembangan kota dan masyarakat perkotaan. Misalnya, model POET --populasi (population), organisasi (organization), lingkungan (environment), dan teknologi (technology)-- dikembangkan untuk mengatasi hubungan kompleks antara manusia, organisasi sosial, dan lingkungannya. Amos Hawley, seorang profesor bidang kependudukan di Universitas North Carolina, Chapel Hill, mengembangkan landasan konseptual dan teoritis mengenai hubungan antara populasi, lingkungan sosial-politik-ekonomi, dan perubahan dalam pembangunan dan berpendapat bahwa ekologi manusia adalah “ilmu sosial dasar”.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ekologi manusia lahir dari beberapa bidang ilmu sebagai induk, antara lain antropologi, geografi, psikologi, dan sosiologi, dengan menggunakan konsep ekologi umum dalam menjelaskan permasalahan dalam bidang ilmu masing-masing. Istilah ekologi manusia pertama kali digunakan oleh Robert Park dan Ernest Burgess dari Universitas Chicago pada oleh pada 1921. Namun, sebagaimana diuraikan oleh A. Park, E. Burgess, dan R. McKenzie, (1925) dalam buku klasik "The City", mereka mendefinisikan ekologi manusia sebagai studi tentang organisasi spasial dan temporal serta hubungan manusia dalam kaitan dengan “kekuatan lingkungan yang selektif, distributif, dan akomodatif”, menghasilkan banyak penelitian tentang distribusi spasial populasi manusia khususnya di daerah perkotaan sebagai kontribusi penting. Pada pihak lain, penerapan konsep yang dipinjam dari ekologi tumbuhan dan hewan untuk studi masyarakat manusia menyiratkan bahwa ekologi manusia diartikan sebagai studi tentang faktor-faktor biotik yang mempengaruhi organisasi sosial dan distribusi spasial kelompok dan komunitas manusia. Gerald G. Marten (2001) dalam bukunya "Human Ecology: Basic Concepts for Sustainable Development" menggunakan ekologi manusia dan teori sistem kompleks sebagai kerangka kerja untuk mengkaji sistem ekonomi dan institusi sosial lainnya serta dampaknya terhadap lingkungan alami. Secara khusus, ia membahas ekologi manusia sebagai alat untuk menyelesaikan isu-isu pembangunan berkelanjutan dan masalah lingkungan dengan memahami keterhubungan yang kompleks antara sistem sosial manusia dan ekosistem.
Bagaimana Kaitannya dengan Bidang Ilmu Lain yang Membawa Nama Ekologi?
Selain ekologi manusia terdapat bidang lain yang juga membawa istilah ekologi dalam namanya, yaitu antropologi ekologis, ekologi sosial, ekologi politik, dan sistem sosial-ekologis. Bagaimana kaitan antara ekologi sosial dengan bidang ilmu lain tersebut? Lebih tepatnya, apa persamaan dan perbedaan antara ekologi manusia dengan bidang ilmu lain tersebut? Untuk memahami kaitan ekologi manusia dengan bidang ilmu lain tersebut terlebih dahulu kita perlu memberikan definisi terhadap bidang ilmu masing-masing, fokus kajiannya, bidang ilmu lain yang terkait dalam kajiannya, dan contoh kajian yang dilakukan. Selain itu juga terdapat bidang ilmu lain yang serupa, tetapi dengan menggunakan objek tertentu dari ekologi sebagai fokus kajian, antara lain ekologi lanskap, ekologi perdesaan, dan ekologi perkotaan, serta bidang ilmu lain yang menggunakan aspek ekologi tertentu sebagai fokus kajiannya, misalnya ekologi populasi, ekologi komunitas, dan ekologi ekosistem, yang karena sudah jelas dari objek atau aspek yang dikaji maka tidak akan diuraikan lebih lanjut.
Antropologi ekologi (ecological anthropology) mempelajari hubungan antara manusia dan ekosistemnya dari sudut pandang budaya, khususnya mengkaji bagaimana praktik budaya mempengaruhi penggunaan sumber daya dan persepsi lingkungan. Fokus kajian entropologi ekologis adalah menekankan adaptasi budaya, strategi subsistensi masyarakat, dan pengetahuan ekologis yang digunakan oleh masyarakat lokal dalam melakukan adaptasi dan mengembangkan strategi subsistensi. Kajian antropologi ekologis dilakukan dengan melakukan penelitian lapangan dengan menggunakan metode etnografi untuk memahami praktik ekologi lokal. Konsep utama yang digunakan dalam antropologi ekologis adalah etnoekologi, lanskap budaya, dan pengetahuan ekologi asli, pengetahuan ekologi tradisional, dan pengetahuan ekologi lokal. Sebagai contoh kajian antropologi ekologis adalah analisis analisis pengetahuan lokal masyarakat dalam menghadapi gagal panen yang terjadi karena kekeringan berkepanjangan.
Ekologi sosial (social ecology) mengeksplorasi keterkaitan antara sistem sosial dan sistem ekologi dengan mempertimbangkan bagaimana struktur sosial, institusi, dan dinamika kekuasaan mempengaruhi lingkungan. Fokus perhatian ekologi sosial adalah menekankan peran faktor sosial (seperti politik, ekonomi, dan norma budaya) dalam membentuk dan untuk memahami isu-isu lingkungan. Aspek utama dalam kajian ekologi sosial adalah keadilan sosial, keadilan lingkungan, pengorganisasian masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan. Sebagai contoh kajian ekologi sosial adalah analisis dampak kebijakan perencanaan kota terhadap akses terhadap ruang hijau di lingkungan berpendapatan rendah.
Ekologi politik (political ecology) mengkaji kekuatan politik dan ekonomi yang membentuk permasalahan lingkungan melalui tellahan mengenai bagaimana hubungan kekuasaan, institusi, dan ideologi mempengaruhi distribusi sumber daya dan degradasi lingkungan. Fokus kajian ekologi politik adalah menekankan peran politik, kebijakan, dan dinamika kekuasaan yang tidak setara dalam pengambilan keputusan terkait lingkungan hidup. Aspek utama kajian ekologi politik mencakup konflik lingkungan, gerakan keadilan lingkungan, dan aspek ekonomi politik dalam permasalahan lingkungan hidup. Contoh kajian ekologui politik adalah analisis dampak proyek pertambangan skala besar terhadap hak adat atas tanah dan ekosistem lokal.
Sistem sosial-ekologis (social-ecological system, SES) mengkaji interaksi kompleks antara aspek sosial dan aspek ekologis dalam suatu permasalahan yang terjadi wilayah geografis tertentu dengan memandang bahwa manusia adalah bagian integral dari ekosistem. Fokus kajian sistem sosial-ekologis adalah mengintegrasikan dimensi sosial, ekonomi, dan ekologi dalam memahami ketahanan, kerentanan, dan keberlanjutan dalam menghadapi suatu permasalahan. Aspek utama sistem sosial-ekologis adalah kapasitas adaptif, mekanisme umpan balik, interaksi lintas skala, dan tata kelola. Contoh kajian sistem sosial-ekologis adalah kemampuan adaptasi masyarakat nelayan di wilayah pesisir terhadap perubahan ekosistem laut yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.
Ekologi manusia mempunyai persamaan dengan bidang ilmu tersebut di atas dalam hal sama-sama mengkaji permasalahan lingkungan dalam dimensi sosial-ekonomi, sosial-politik, dan sosial-budaya dengan menggunakan konsep ekologis. Namun demikian, ekologi manusia berbeda dari bidang ilmu di atas dalam hal fokus dan aspek utama kajian. Fokus kajian ekologi nmanusia adalah menekankan hubungan antara manusia dan lingkungannya dengan berfokus pada kemampuan adaptasi manusia, dinamika kependudukan, pranata teknologi dan sosial, pemanfaatan sumberdaya alam, dan dampak yang terjadi terhadap ekosistem dan lingkungan alami maupun binaan. Contoh kajian ekologi manusia adalah mempelajari bagaimana masyarakat adat di hutan kering memanfaatkan sumberdaya hutan sebagai sumber bahan pangan alternatif ketika terjadi gagal panen karena kekeringan.
Posisi Manusia dalam Ekosistem dan Pendekatan Kajian dalam Kajian Ekologi Manusia
Ekologi memandang manusia sejajar dengan mahluk hidup lainnya sebagai bagian dari ekosistem dalam kajiannya. Mengingat dalam ekologi manusia perhatian khusus diberikan kepada manusia, lalu bagaimana menempatkan manusia dalam hubungan dengan mahluk hidup lain dalam dalam kaitan dengan ekosistem? Dalam hal ini, dalam mengkaji hubungan manusia dengan ekosistem, manusia dapat ditempatkan dalam tiga pilihan posisi:
- Manusia berbeda dari mahluk hidup lain dan bukan merupakan bagian dari ekosistem
- Manusia berbeda dari mahluk hidup lain tetapi merupakan bagian dari ekosistem
- Manusia sejajar dengan mahluk hidup lain sebagai komponen ekosistem
Pada 1870-an Darwin dan Huxley mematahkan asumsi sederhana bahwa manusia sama sekali terpisah dari ekosistem. Namun lebih dari satu abad kemudian kita masih berjuang untuk memahami implikasi dari tantangan ini:
- Apakah manusia benar-benar merupakan mahluk hidup yang unik?
- Jika manusia memang benar-benar merupakan mahluk hidup yang unik, unik dalam hal apa?
- Apakah yang merupakan asal mula evolusioner perbedaan manusia dengan mahluk hidup lainnya?
Melalui ekologi manusia kita berusaha menjawab ketiga pertanyaan besar di atas dengan mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana:
- Bagaimana seharusnya kita menyikapi sifat-sifat unik manusia?
- Seberapa besar peran sifat unik manusia terhadap pendekatan ekologi dan konsep adaptasi?
- Bagaimana kita harus memodifikasi teori ekologi dan evolusi agar dapat menjelaskan sifat unik manusia tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan ekologi di atas, kita tidak menggunakan monodisipliner. Melainkan, kita menggunakan pendekatan multi-disipliner (multi-disciplinanry), inter-disipliner (inter-disciplinary), lintas-disipliner (cross-disciplinary), dan bahkan trans-disipliner (trans-disciplinary). Pendekatan multi-disipliner merupakan pendekatan yang dilakukan dengan menggunakan perspektif berbagai disiplin ilmu. Pendekatan inter-disipliner merupakan pendekatan yang dilakukan dilakukan dengan menggunakan metodologi yang disintesis dari metodologi berbagai disiplin ilmu. Pendekatan lintas-disipliner merupakan pendekatan yang dilakukan dilakukan dengan menggunakan perspektif bidang ilmu lain dalam mengkaji bidang ilmu tertentu. Pendekatan trans-disipliner merupakan pendekatan yang dilakukan dilakukan dengan menggunakan berbagai bidang ilmu sebagai kerangka pendekatan dalam mengkaji bidang ilmu tertentu. Silahkan kunjungi presentasi mengenai inter-disiplinaritas oleh Karl Donert untuk memperoleh informasi lebih lanjut. Menggunakan pendekatan kajian multi-disipliner, inter-disipliner, dan trans-disipliner tidak semudah menggunakan pendekatan mono-disipliner. Tetapi justru di situlah letak seni dan menariknya ekologi manusia dan bidang ilmu serupa lainnya: antropologi manusia, ekologi sosial, ekologi politik, dan sistem sosial-ekologis.
| Gambar x. Disiplinaritas ekologi manusia Sumber: Diadaptasi dari ARJ (1922) |
Untuk berlatih membaca dan memahami apa yang dibaca guna memperdalam materi kuliah ini, silahkan mengakses atau mengunduh dan kemudian pustaka berikut ini:
- Borden, R.J. (2017) A Century of Human Ecology Recollections and Tributes-- On the Occasion of the 100th Anniversary of the Ecological Society of America. Human Ecology Review 23(2): Online.
- Bruhn, J.G. (1974) Human ecology: A unifying science? Human Ecology 2(2): 105–125
- Dyball, R. (2017) A Brief History of Human Ecology within the Ecological Society of America and Speculation on Future Direction. Human Ecology Review 23(2), Special Issue: Human Ecology—A Gathering of Perspectives: Portraits from the Past-Prospects for the Future, pp. 7-16
- Lawrence, R.J. (2003). Human ecology and its applications. Landscape and Urban Planning 65: 31–40
- McManus, P. (2009). Ecology, in International Encyclopedia of Human Geography: 294–303.
- Trosper, R.L. (2005) Emergence Unites Ecology and Society. Ecology and Society 10(1): 17 pages
Setiap mahasiswa akan diminta untuk menyampaikan buku apa yang sudah dibacanya dan menyampaikan ringkasan isinya melalui Laporan Melaksanakan Kuliah dan Mengerjakan Tugas.
1.2.1.3. Mengerjakan Kuis
1.1.2. MENGERJAKAN TUGAS KULIAH
1.1.2.1. Membagikan Situs Mata Kuliah dan Materi Kuliah
Sebagai mahasiswa milenial, setiap mahasiswa tentu mempunyai akun media sosial untuk tujuan menampilkan diri. Gunakan media sosial masing-masing juga untuk tujuan belajar dengan cara membagikan situs mata kuliah dengan mengklik pilihan tombol media sosial untuk membagikan blog secara keseluruhan dan membagikan setiap materi kuliah dengan mengklik tombol pilihan media sosial yang disediakan pada setiap materi kuliah. Pembagian situs mata kuliah dan materi kuliah dilakukan paling lambat pada Senin, 6 November 2023 pukul 24.00 WITA. Catat tautan (link) pembagian blog dan pembagian materi kuliah melalui media sosial masing-masing untuk dilaporkan dalam Laporan Melaksanakan Perkuliahan Daring. Setiap mahasiswa juga wajib menyampaikan laporan pembagian blog dan materi kuliah pada saat mengikuti ujian tengah semester.
1.1.2.2. Menyampaikan dan Menanggapi Komentar dan/atau Pertanyaan
Sampaikan minimal satu komentar dan/atau pertanyaan singkat mengenai materi kuliah ini dengan mengerikkan di dalam kotak Masukkan komentar Anda ... yang terletak di sebelah bawah materi kuliah ini dan kemudian tanggapi minimal dua komentar dan/atau pertanyaan yang disampaikan oleh mahasiswa lainnya paling lambat pada Senin, 6 November 2023 pukul 24.00 WITA. Pastikan bahwa komentar yang Anda sampaikan benar-benar berkaitan dengan materi kuliah ini dan tidak sama dengan yang telah disampaikan oleh mahasiswa lainnya. Komentar dan/atau pertanyaan yang tidak berkaitan dengan materi ini atau yang sama dengan yang telah disampaikan oleh mahasiswa lain akan diperlakukan sebagai tidak menyampaikan komentar dan/atau pertanyaan. Mahasiswa yang tidak menyampaikan tidak akan memperoleh nilai softskill mengenai materi kuliah ini.
1.2.2.3. Mengerjakan Tugas Kuliah
Melanjutkan tugas materi kuliah 1.1, silahkan kembali mengunjungi narasumber yang sama untuk melakukan wawancara mendalam. Sampaikan pertanyaan berikut ini dengan cara sedemikian rupa sehingga menjadi mudah dipahami oleh petani:
- Sejak kapan menjalani dan apa yang menyebabkan mereka menjalani kegiatan penghidupan tersebut, bukan menjalani kegiatan penghidupan yang lain?
- Pengalaman menarik apa yang mereka peroleh dari menjalani kegiatan penghidupan masing-masing?
- Bagaimana petani menggunakan pengalaman mereka sebagai pelajaran untuk memperbaiki penghidupan mereka sampai pada saat ini
Silahkan mengerjakan Tugas Kuliah ini pada saat mengisi formulir Laporan Melaksanakan Kuliah yang tautannya diberikan di bawah ini paling lambat pada Senin, 6 November 2023 pukul 24.00 WITA.
9.3. ADMINISTRASI PELAKSANAAN KULIAH
Untuk membuktikan telah melaksanakan kuliah, setiap mahasiswa wajib mengakses, menandatangani presensi, dan mengumpulkan tugas melalui materi kuliah ini untuk kemudian disinkronisasi dengan situs SIADIKNONA. Silahkan juga mengerjakan quiz, menandatangani daftar hadir, dan memasukkan laporan melaksanakan kuliah dan mengerjakan tugas materi kuliah 1.2 ini dengan mengklik tautan di bawah ini.
- Menandatangani Daftar Hadir Melaksanakan Kuliah paling lambat pada Rabu, 1 November 2023 pukul 24.00 WITA dan kemudian silahkan periksa untuk memastikan telah daftar hadir telah ditandatangani,
- Memasukkan Laporan Melaksanakan Kuliah dan Mengerjakan Tugas paling lambat pada Senin, 6 November 2023 pukul 24.00 WITA dan kemudian silahkan periksa untuk memastikan laporan telah masuk.
untuk menunjukkan bahwa Anda telah mengikuti perkuliahan materi ini. Mahasiswa yang tidak mengisi dan memasukkan Daftar Hadir Melaksanakan Kuliah dan Laporan Melaksanakan Kuliah akan ditetapkan sebagai tidak melaksanakan kuliah.
*****
Penulis dan penyaji materi kuliah: I Wayan Mudita
Diterbitkan: 8 September 2019, belum pernah direvisi
Diterbitkan: 8 September 2019, belum pernah direvisi
Hak cipta selurun tulisan pada blog ini dilindungi berdasarkan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License. Silahkan mengutip tulisan dengan merujuk sesuai dengan ketentuan perujukan akademik.

No comments:
Post a Comment