Halaman Aktif

Selamat Datang

Belajar Ekologi Manusia adalah blog yang dibuat untuk mendukung mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana Undana yang sedang mengambil mata kuliah Ekologi Manusia untuk mengikuti perkuliahan dengan metode blended learning dengan cara menyajikan materi kuliah dan sumberdaya belajar lainnya yang dapat diakses secara daring (online). Materi kuliah disajikan secara ringkas disertai dengan tautan ke halaman eksternal yang perlu dijelajah untuk memperkaya materi kuliah. Mahasiswa peserta kuliah diwajibkan aktif menyampaikan komentar dan pertanyaan pada bagian bawah setiap materi kuliah.

Friday, March 1, 2024

1.1. Wawasan Ekologi Manusia: Ekologi Manusia sebagai Bidang Ilmu

Saya diminta mengampu mata kuliah Ekologi Manusia untuk pertama kali. Latar Belakang pendidikan saya bukan ekologi manusia, melainkan ekologi politik (political ecology) dan sistem sosial-ekologis (social-ekological system, SES). Ekologi politik dan sistem sosial-ekologis memang mempunyai persamaan dengan manusia, yaitu sama-sama mengkaji hubungan antara manusia dengan ekosistem, tetapi fokusnya berbeda. Oleh karena itu, mari kita belajar bersama. Saya belajar dengan membaca banyak buku teks dan kemudian merangkumnya menjadi materi kuliah. Anda para mahasiswa belajar melalui rangkuman yang saya sampaikan dan kemudian membaca pustaka yang relevan dengan materi kuliah. Saya berharap setiap mahasiswa berkenan menyampaikan pertanyaan dan/atau komentar agar saya juga dapat belajar dari para mahasiswa.

1.1.1. MATERI KULIAH

1.1.1.1. Membaca Materi Kuliah
Kita Sudah Belajar Ekologi
Sebagai mahasiswa magister ilmu lingkungan, Anda saya asumsikan sudah belajar ekologi atau setidak-tidaknya sudah pernah mengenal istilah ekologi. Saya juga berharap Anda sudah memahami hubungan antara ekologi (ecology) dan ilmu lingkungan (environmental sciences) atau studi lingkungan (environmental studies). Jika ada yang belum mempelajarinya, saya minta tolong agar sambil mempejari materi kuliah yang saya sampaikan, Anda juga mempelajari ekologi, ilmu lingkungan, dan studi lingkungan. Dalam menuliskan materi kuliah, tidak dapat saya hindari penggunaan istilah ekologi, ilmu lingkungan, dan studi lingkungan. Silahkan mengunduh dan membaca buku teks pengantar Introductory Biology: Ecology, Evolution, and Biodiversity oleh E. Kosal (), Ecology: A Very Brief Introduction, ... Pada bagian mata kuliah ini saya akan menyampaikan beberapa konsep ekologi yang benar-benat diperlukan dalam mempelajari ekologi manusia.

Dalam ekologi, mahluk hidup dipelajari sebagai individu (individual), sebagai populasi (population), dan sebagai anggota komunitas (ecological community). Setiap individu mahluk hidup memopunyai nama ilmiah (scientific name), berupa nama ilmiah species yang terdiri atas dua bagian: bagian depan adalah nama genus yang ditulis dengan huruf awal kapital dan bagian kedua adalah nama keterangan (epithet) jenis. Berdasarkan kesamaan ciri-cirinya, mahluk hidup kemudian digolongkan secara berperingkat dari kesamaan ciri yang lebih khusus ke kesamaan ciri yang semakin umum ke dalam peringkat taksonomik (taxonomic rank): genus, famili, ordo, kelas, filum/divisi, kerajaan, dan domain. Misalnya manusia dengan nama ilmiah jenis Homo sapiens secara berperingkat termasuk dalam genus: Homo, famili: Hominidae, ordo: Primata, kelas: Mammalia, filum: Chordata, kerajaan: Animalia, dan domain: Eukaryota. Sapiens dalam judul bukunya Yuval Noah Harari: Sapiens: A Brief History of Humankind merupakan keterangan nama jenis dari nama Homo sapiens sebagai nama jenis manusia. Homo berarti kera yang berjalan dengan berdiri dan sapiens berari arif. Selain Homo sapiens, dalam genus Homo termasuk sejumlah jenis manusia lain, tetapi hanya jenis Homo sapiens yang masih bertahan sampai sekarang, dan menguasai planet bumi. Mahluk hidup yang masih ada dan mempunyai hubungan paling dekat dengan manusia adalah simpanse kecil (bonobo, Pan paniscus) dengan kesamaan DNA sampai 98,7%, tetapi dengan perilaku dan kemampuan yang jauh berbeda.

Gambar 1.1.1. Bonobo dan Manusia: Berbagi 98,7% DNA sama, tapi dengan perilaku dan kemampuan yang sangat jauh berbeda 

Individu-individu jenis yang sama yang terdapat pada satu tempat selama waktu tertentu merupakan populasi (population) dengan jumlah seluruh individunya merupakan ukuran populasi (population size). Khusus untuk manusia, populasi manusia lazim disebut penduduk dan jumlah individu yang menjadi bagian dari penduduk di suatu wilayah pada waktu tertentu lazim disebut jumlah penduduk. Ukuran populasi per satuan wilayah disebut kepadatan populasi (population density) dan untuk manusia disebut kepadatan penduduk. Ukuran dan kepadatan populasi berubah karena kelahiran, kematian, imigrasi (masuk dari luar), dan emigrasi (pindah ke luar). Ukuran dan kepadatan populasi di suatu wilayah berubah dari waktu karena berbagai faktor, baik faktor fisik, hayati, sosial-ekonomi, sosial politik, maupun sosial budaya. Perubahan karena faktor hayati terjadi karena persaingan dengan populasi jenis mahluk hidup lain yang juga terdapat pada tempat dan waktu yang sama. Tempat atau wilayah yang ditempati oleh suatu jenis mahluk hidup merupakan habitat (habitat) mahluk hidup yang bersangkutan, sedangkan cara yang dilakukan oleh jenis mahluk hidup yang bersangkutan untuk memanfaatkan sumberdaya yang terdapat dalam habitatnya merupakan relung (niche) mahluk hidup yang bersangkutan. Persaingan yang terjadi antar individu dalam spesies yang sama maupun antar individu dari spesies yang berbeda dalam memanfaatkan habitat dan sumberdaya yang tersedia di dalamnya menunjukkan bahwa seluruh mahluk hidup saling berinteraksi satu sama lain. Berbagai jenis mahluk hidup yang saling berinteraksi membentuk komunitas ekologis (ecological community) dan satuan fisik di mana terjadi interaksi antara mahluk hidup dengan lingkungan fisiknya membentuk ekosistem (ecosystem), misalnya komunitas ikan di dalam sebuah ekosistem danau.

Setiap ekosistem, sebagaimana halnya alam raya, terdiri atas materi dan energi. Materi berubah melalui proses melingkar yang dikenal sebagai daur materi (material cycle), sedangkan energi berubah dalam proses linier terbuka yang dikenal sebagai arus energi (energy flow). Contoh daut materi adalah daur air, daur nitrogen, daur fosfor, dan daur karbon. Air mengalir dari mata air ke anak sungai, dari anak sungai ke sungai induk, dari sungai induk ke laut, dari laut menguap membentuk awan hujan, awan hujan turun sebagai air hujan, air hujan mengisi casangan air tanah, dan cadangan air tanah muncul ke permukaan sebagai mata air. Hal yang kurang lebih sama terjadi pada nitrogen, fosfor, dan karbon. Karbon merupakan unsur yang membentuk badan mahluk hidup, mulai dari manusia sampai bakteri. Di antara berbagai golongan mahluk hidup, tumbuhan berklorofil mampu mengambil karbon dari udara untuk membentuk tubuhnya, sedangkan mahluk hidup lainnya termasuk manusia memperoleh karbon dari tumbuhan. Ketika mahluk hidup mati, karcon yang membentuk tubuhnya masuk ke dalam tanah, sebagian memfosil membentuk batu bara, minyakbumi, dan gas alam. Untuk memperoleh energi, manusia membakar batu bara, minyak bumi dan gas alam, melepaskan karbon ke udara sebagai karbondioksida. Sebagian dari karbondioksida yang terdapat di udata diambil kembali oleh tumbuhan untuk diubah menjadi karbon organik. Namun jika kandungan karbondioksida di udara terlalu banyak maka karbondioksida yang berkelebihan akan menyelkimuti permukaan bumi, menyebabkan panas yang terjadi ketika cahaya matahari mengenai permukaan bumi tidak dapat dilepaskan ke luar atmosfer bumi sehingga terjadi apa yang disebut pemanasan global (global warming) yang menimbulkan perubahan iklim (climate change). Panas merupakan energi yang terlepas ketika energi berubah dari satu bentuk ke bentuk lain, misalnya berubah dari energi sinar matahari menjadi energi bentuk lainnya.

Daur materi dan arus energi yang terjadi antar mahluk hidup dikenal sebagai rantai makanan (food chain) dan jaring-jaring makanan (food web). Rantai makanan terdiri atas rangakaian lurus satu jenis mahluk hidup memakan mahluk hidup lainnya, sedangkan jaring-jaring makanan merupakan rangkaian bercabang satu jenis mahluk hidup memakan mahluk hidup lainnya. Manusia memakan ayam dan ayam memakan biji jagung merupakan rantai makanan, sedangkan musang memakan ayam, manusia memakan ayam, manusia memakan biji jagung, dan ayam memakan biji jagung merupakan jaring-jaring makanan. Dalam ranrai kanan atau jaring-jaring makanan, mahluk hidup yang hanya memakan tumbuhan disebut herbivora, yang memakan hanya hewan disebut karnivora, dan yang memakan tumbuhan dan hewan sekaligus disebut omnivora. Setiap tingkatan dalam rantai makanan maupun dalam jaring-jaring makanan dikenal sebagai taraf trofik (trophic level). Dalam proses makanan memakan dalam rantai makanan maupun jaring-jaring makanan terjadi daur materi dan arus energi sebagaimana halnya yang terjadi dalam ekosistem. Dalam proses makan memakan ini misalnya terjadi daur karbon dari tumbuhan ke hewan dan akhirnya ketika tumbuhan dan hewan mati dan diuraikan oleh mahluk hidup pengurai, karbon masuk ke dalam tanah. Tumbuhan mengambil karbon dari udara dan karbon yang tersimpan di dalam tanah dapat terlepas ke udara ketika tanah diolah atau ketika batu bara, minyak bumi, atau gas alam ditambang. Dalam proses makan memakan juga terjadi arus energi berupa perubahan energi kimia dari mahluk hidup yang diamakan ke mahluk hidup yang diamakan.

Kemampuan ekosistem dalam menyediakan layanan kepada mahluk hidup dikenal sebagai jasa ekosistem (ecosystem services). Jasa ekosistem bagi semua mahluk hidup meliputi jasa penyediaan (provision service), jasa pengaturan (regulating service), dan jasa pendukung (supporting service), sedangkan bagi manusia juga meliputi satu jasa tambahan, yaitu jasa budaya (cultural service). Produksi bahan makanan merupakan contoh jasa penyediaan, penguraian bahan organik merupakan contoh jasa pengaturan, daur unsur hara merupakan jasa pendukung, dan keindahan alam untuk rekreasi merupakan jcontoh jasa budaya. Jasa ekosistem yang dapat dimanfaatkan oleh mahluk hidup berbeda-beda dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya, baik dalam jenis jasa maupun dalam hal jumlah yang tersedia dari setiap jasa yang dapat dimanfaatkan. Lereng curam mungkin memberikan jasa penyediaan yang terbatas, tetapi dapat memerikan jasa budaya yang tinggi. Untuk dapat hidup pada ekosistem dengan jasa ekosistem yang berbeda-beda, mahluk hidup termasuk manusia perlu melakukan adaptasi (adaptation) dengan habitat tempat hidupnya dan melakukan koevolusi (coevolution) dengan mahluk hidup lain yang hidup pada habitat yang sama. Adaptasi dan koevolusi menyebabkan mahluk hidup terikat pada habitatnya, sebagaimana manusia terikat dengan kampung halaman di mana ia dilahirkan dan dibesarkan.

Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh mahluk hidup merupakan sumberdaya (resources) bagi mahluk hidup yang bersangkutan. Misalnya maluk hidup membutuhkan oksigen, air, bahan makanan, dan bahan tempat tinggal maka oksigen, air, bahan makanan, bahan penghasil energi, dan bahan tempat tinggal merupakan sumberdaya. Berbagai mahluk hidup memerlukan sumberdaya yang berbeda-beda dan di antara berbagai mahluk hidup manusia memerlukan jenis sumberdaya yang paling beragam. Dari aspek kemampuannya untuk pulih kembali setelah diambil, sumberdaya dibedakan menjadi sumberdaya terbarukan (renewable resources) dan sumberdaya tidak terbarukan (non-renewable resources). Tanaman dan ternak adalah sumberdaya bahan makanan yang bersifat terbarukan karena tanaman dapat ditanam dan ternak dapat diperlihara kembali. Batubara, minyak bumi, dan gas alam memerlukan waktu yang sangat lama untuk terbentuk kembali sehingga dalam skala waktu hidup manusia merupakan sumberdaya tidak terbarukan. Namun sumberdaya terbarukan dapat berubah menjadi tidak terbarukan jika habitat tempat memperbaruinya mengalami gangguan. Tanaman jagung tidak dapat ditanam kembali jika tanah menjadi tidak subur, ternak tidak dapat diperlihara kembali jika tanaman pakannya tidak tersedia atau terjadi penyakit yang mematikan. Tanah menjadi tidak subur dan penyakit tanaman maupun ternak dapat terjadi secara alami atau karena kegiatan manusia. Sumberdaya disediakan oleh ekosistem sebagai jasa penyediaan.

Mahluk hidup memperoleh kebutuhannya dari dan membuang sisa dari yang dibutuhkannya ke ekosistem. Ketika mengambil kebutuhan dari dan membuang sisanya ke ekosistem, mahluk hidup menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem. Untuk memperoleh kebutuhan dan membuang sisa dari kebutuhannya, mahluk hidup memerlukan luas permukaan tertentu dari ekosistem. Luas permukaan ekosistem yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan menjadi tempat membuang sisa dari kebutuhan tersebut dikenal sebagai kapasitas hayati (biological capacity atau biocapacity). Ketika menggunakan kapasitas hayati suatu ekosistem untuk memenuhi kebutuhan dan membuang sisa dari kebutuhannya maka mahluk hidup menimbulkan jejak kaki ekologis (ecological footprint). Kebutuhan mahluk hidup berbeda-beda bergantung pada jumlah individunya dan cara hidup setiap individunya. Misalnya jumlah manusia lebih besar dari jumlah bonobo dan cara hidup manusia lebih boros dari cara hidup bonobo. Pada pihak lain, setiap ekosistem mempunyai kapasitas hayati yang berbeda-beda untuk memenuhi kebutuhan dan menjadi tempat pembuangan sisa kebutuhan mahluk hidup. Karena kapasitas hayati semakin banyak dimanfaatkan seiring dengan meningkatnya ukuran populasi maka seiring dengan meningkatnya jejak kaki ekologis, kapasitas hayati menjadi semakin menurun. Pada suatu waktu, jejak kaki ekologis melampaui kapasitas hayati sehingga terjadi apa yang disebut sebagai overshot

Mengingat ekosistem mempunyai jasa pengaturan dan jasa pendukung, ekosistem sebenarnya dapat menyesuaikan diri untuk menjadikan kapasitas hayatinya dapat menahan jejak kaki ekologis yang semakin meningkat. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dalam menghadapi tekanan jejak kaki ekologis manusia ini disebut daya lenting (resillience). Namun demikian, setiap ekosistem mempunyai daya lenting maksimum tertentu yang dikenal sebagai daya dukung (carrying capacity). Jika daya dukung terlampaui maka ekosistem mengalami gangguan (peturbation) sehingga tidak lagi dapat menyediakan jasa ekosistem sebagaimana dalam keadaan normal. Ekosistem yang mengalami gangguan memerlukan materi dan energi yang berasal dari luar ekosistem itu sendiri agar dapat memulihkan diri dalam waktu yang panjang. Kemampuan ekosistem yang mengalami kerusakan untuk memulihkan diri dalam waktu panjang dikenal sebagai suksesi ekologis (ecological succession). Namun memulihkan diri dalam hal ini bukan berarti kembali ke keadaan sebelumnya, melainkan ke keadaan baru dengan kemampuan menyediakan jasa ekosistem yang berbeda dari sebelumnya.

Jika ekologi sedemikian teraturnya sebagaimana diuraikan di atas, mengapa ekosistem bisa tercemar dan mengalami kerusakan? Di antara berbagai jenis mahluk hidup, jenis mana yang paling rakus memanfaatkan sumberdaya yang tersedia dalam ekosistem dan apa akibatnya bagi mahluk hidup lainnya? Jika manusia mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya, mengapa tidak menggunakan pengetahuan untuk menjaga kelestarian ekosistem yang menjadi tempat hidupnya? Sebagai mahluk hidup dengan kemampuan tertinggi, apa tanggung jawab manusia atas pencemaran dan kerusakan yang terjadi terhadap ekosistem dan lingkungan hidupnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak cukup dijawab melalui ekologi. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat dijawab lebih baik dengan mempelajari cabang khusus ekologi, antara lain ekologi manusia.

Sekarang Kita Mempelajari Ekologi Manusia
Setelah Anda memahami uraian ekologi dasar sebagaimana di atas maka tiba saatnya mulai mempelajari ekologi manusia. Lalu apa beda antara ekologi dan ekologi manusia? Ekologi mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan ekosistem. Hubungan timbal balik tersebut biasa disebut interaksi (interaction). Dalam ekosistem terjadi interaksi antara sesama mahluk hidup dan antara mahluk hidup dengan unsur fisik ekosistem. Faktor fisik ekosistem dapat berupa udara, air, tanah, api, dan sebagainya. Mahluk hidup dalam ekologi mencakup manusia, tetapi dalam interaksinya dengan mahluk hidup lain dan dengan unsur fisik ekosistem manusia dipelajari setara dengan mahluk hidup lainnya. Dalam ekologi, manusia hanyalah satu spesies di antara sekian banyak spesies mahluk hidup lainnya. Misalnya dalam ekologi hubungan antara manusia dengan bonobo dan unsur fisik ekosistemnya dan hubungan antara bonobo dengan manusia dan unsur fisik ekosistem dipelajari sebagai setara. Secara DNA manusia memang berkerabat dekat dengan bonobo, tetapi secara perilaku dan kemampuan manusia jauh berbeda. Jika demikian, apakah mempejari interaksi antara manusia dengan unsur ekosistem dan interaksi antara bonobo dengan ekosistem akan sama?

Pada awal proses evolusinya, manusia modern, Homo sapiens, memang mempunyai perilaku dan kemampuan, sebagaimana diuraikan oleh Harari (), yang tidak jauh berbeda dengan hewan. Di tempat asal manusia, Afrika, manusia awal awal ini mulai hidup di padang rumput dan padang savana sejak kurang lebih 300 ribu tahun lalu sebagaimana beraneka jenis satwa liar Afrika lainnya yang sudah ada jauh sebelumnya. Meskipun hidup dengan cara memburu satwa liar, manusia modern awal di sana juga dikejar dan dimangsa oleh berbagai hewan karnivora. Tetapi kemudian manusia awal ini mampu menggunakan api untuk memasak makanan dan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Kemudian api bukan hanya untuk memasak makanan, tetapi juga untuk membuat senjata ampuh untuk menghadapi satwa liar pemangsa. Bahasa mereka gunakan bukan hanya untuk memanggil sesama manusia lainnya ketika diancam oleh satwa liar pemangsa, melainkan juga untuk membuat cerita mengenai perjalanan mereka dan cerita mengenai kehebatan seseorang yang menjadi pemimpin mereka. Dalam pengembaraannya di Afrika, mereka memperoleh makanan dengan cara berburu dan mengumpul (hunting and gathering) dan menjinakkan satwa liar untuk menjadi ternak yang mereka gembalakan dalam perjalanan pengembaraan. Setelah beberapa ratus ribu tahun setelah mengembara di Afrika, diduga karena faktor iklim, manusia modern kemudian bermigrasi keluar Afrika. Kemudian, dalam pengembaraan mereka keluar dari Afrika (Out of Africa Theory, Multiregional Origin Theory), manusia modern menemukan lahan subur di pesisir timur Laut Mediterania dan dataran antara sungai Euphrat dan sungai Tigris, yang kemudian dikenal sebagai Lahan Subur Bulan Sabit (Fertile Crescent), di mana mereka mulai menjinakkan tumbuhan liar dan membudidayakannya. Dari Lahan Subur Bulan Sabit ini manusia modern kemudian melanjutkan pengembaraannya, bertemu dengan manusia purba Homo neanderthalensis di Eropa dan Homo erectus di Asia, dan menggunakan kemampuan bahasa dan kemampuan belajarnya untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya sehingga dapat "memenangi" persaingan dengan kedua spesies manusia purba yang sudah ada sebelumnya.

Gambar 1.1.2. Jalur indikatif gelombang migrasi keluar dari Afrika dan lokasi beberapa fosil manusia purba dan situs arkeologi yang paling relevan. Sumber: Lopez et al. (2015)

Manusia modern menggunakan kemampuan bahasa (language) dan kemampuan belajarnya (cognition) untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dengan kemampuan bahasa dan kemampuan belajar ini manusia modern mampu menulis cerita, membangun kepercayaan dan agama, membangun pengetahuan dan teknologi, serta berorganisasi dan berpolitik, bukan saja untuk memenangi persaingan dengan manusia purba, tetapi juga untuk menguasai alam, menjadikan dirinya sebagai mahluk hidup yang paling berkuasa di planet bumi. Menggunakan apa yang telah berhasil dibangunnya tersebut, manusia modern melakukan revolusi industri, mulai dari Industri 1.0 sampai Industri 4.0, membangun masyarakat mulai dari Masyarakat 1.0 sampai Masyarakat 5.0. Namun apakah dengan semua kemampuannya itu manusia modern dapat menjadikan dirinya lebih sejatera dan menjadikan bumi tempat tinggalnya semakin terjaga? Untuk menjawab pertanyaan ini, dalam ekologi manusia kita mempelajari:
interaksi antara manusia dan ekosistemnya dengan memfokuskan perhatian pada manusia dalam (1) kemampuannya beradaptasi, (2) dinamika kependudukannya, (3) kemampuannya membangun pranata teknologi dan pranata sosial, (4) kemampuannya memanfaatkan sumberdaya, dan (5) dampak yang ditimbulkannya terhadap ekosistem.
Fokus perhatian inilah yang akan kita pelajari secara lebih mendalam pada materi-materi kuliah berikutnya.

Mengapa Kita Perlu Mempelajari Ekologi Manusia?
Setelah membaca uraian pada kedua bagian di atas, Anda mungkin akan bertanya, jika Anda membaca secara kritis, karena ekologi mempelajari interaksi antara mahluk hidup dengan lingkungannya dan manusia merupakan mahluk hidup sebagaimana mahluk hidup lainnya, tidakkah cukup mempelajari ekologi saja untuk memahami interaksi antara manusia dengan lingkungannya? Untuk menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu Anda perlu memahami bahwa dalam mempelajari ekologi, ekologi dapat diberikan tiga interpretasi yang berbeda, yaitu interpretasi biologis, interpretasi metaforis, dan interpretasi ideologis. 

Interpretasi biologis memandang manusia setara dengan mahluk hidup lainnya, padahal dengan kemampuan bahasa dan kemampuan belajarnya manusia berbeda dari mahluk hidup lainnya. Interpretasi metaforik memandang pranata organisasi yang dikembangkan manusia sebagai analogi terhadap organisasi hayati yang melibatkan banyak spesies mahluk hidup yang tidak membangun pengetahuan, padahal manusia merupakan spesies yang dapat menggunakan pengetahuan, termasuk pengetahuan ekologis, sebagai konstruksi sosial, termasuk konstruksi sosial mengenai ekosistem dan lingkungan hidupnya. Interpretasi ideologis menggunakan interpretasi biologis dan interpretasi metaforis untuk menilai hubungan manusia dengan lingkungannya berdasarkan tata nilai yang didasarkan pada standar tertentu sehingga menjadikan ekologi lebih dari sekedar sains atau metafora, melainkan sebagai pandangan dunia yang memiliki implikasi etis terhadap perubahan pribadi, budaya, dan kelembagaan.

Oleh karena ketiga interpretasi yang berbeda tersebut maka mempelajari ekologi saja tidk cukup untuk memahami interaksi antara manusia dengan ekosistemnya. Menjawab tantangan tersebut maka ekologi manusia mempelajari interaksi antara manusia dengan lingkungan dengan menggunakan beberapa kerangka teoritis:
  • Kerangka teori evolusioner, mengasumsikan bahwa kekuatan ekologi bertindak atas variasi genetik dan budaya di antara individu dan populasi untuk menghasilkan kelangsungan hidup dan reproduksi selektif. Dengan menggunakan asumsi ini, prinsip-prinsip seleksi alam neo-Darwinian diterapkan untuk memahami bagaimana individu beradaptasi dengan lingkungan alaminya, bagaimana spesies sosial yang berbeda mencerminkan prinsip-prinsip umum organisasi sosial dalam menanggapi kemungkinan ekologis, dan bagaimana populasi dan budaya dipengaruhi oleh penyakit patogen.
  • Kerangka teori lingkungan, memberikan interpretasi biologis tetapi secara substansial dilengkapi dengan pertimbangan ilmu sosial terhadap permasalahan subsistensi dan keberlanjutan, dengan mengkaji bagaimana perilaku manusia, budaya, tradisi, permukiman, lingkungan terbangun, lokasi spasial, wilayah, dan perasaan manusia terhadap tempat dipengaruhi oleh upaya untuk mendapatkan penghidupan dari lingkungannya secara regional dan bahwa perkembangan masyarakat dan budayanya bervariasi sesuai dengan pola permukiman, teknologi dan sarana perolehan sumber daya material dan bagaimana lingkungan alam dimodifikasi oleh variasi sosiokultural dalam praktik subsistensi manusia.
  • Kerangka teori analogis-simbolis, menggunakan interpretasi konstruksionis sosial terhadap lingkungan untuk mengimbangi penafsiran biologisnya dengan menggunakan lingkungan alami sebagai bahan analisis makna dan pemahaman simbolik untuk memandang dan mendefinisikan peristiwa lingkungan sebagai sesuatu yang nyata dan meresponsnya secara kolektif. Lingkungan alami dianggap memiliki arti penting hanya ketika manusia secara sosial mengkonstruksi, memahami, mendefinisikan, dan menegosiasikan lingkungan tersebut sebagai sesuatu yang nyata, dan membuat klaim yang dapat diperdebatkan mengenai lingkungan tersebut dengan mendefinisikan permasalahan lingkungan melalui makna bersama.
  • Kerangka teori interaktif, merupakan kerangka teori terbaru, paling beragam, dan paling banyak permasalahan ilmiahnya, mencakup berbagai macam etika lingkungan, seperti ekologi mendalam, etika lahan, dan hak-hak hewan, berbagai macam ekologi spiritual, termasuk kearifan lokal, teologi agama, beberapa penerapan teori kompleksitas untuk mengembangkan sistem interaktif, teori Gaia, pendekatan yang berlandaskan politik seperti ekologi sosial dan Marxisme,  ekofeminisme, dan masih banyak lagi.
Keempat kerangka teoritis di atas memungkinkan kita mempelajari interaksi antara manusia dengan lingkungannya dalam ekologi manusia secara berbeda dengan interaksi antara mahluk hidup dan lingkungannya dalam ekologi. Dalam mempelajari ekologi manusia pada materi-materi kuliah selanjutnya, kita akan mempelajari fokus perhatian ekologi dengan menggunakan kerangka teoritis sebagaimana disebutkan di atas.

1.1.1.2. Mengunduh dan Membaca Pustaka
Saya paham bahwa semua mahasiswa pasti dapat membaca dan menulis, tetapi saya khawatir tidak semua yang bisa membaca dapat memahami apa yang dibacanya, apalagi menuliskan kembali apa yang dipahaminya. Oleh karena itu bagi saya literasi bukan hanya soal dapat membaca dan menulis, melainkan yang lebih penting adalah dapat memehami apa yang dibaca dan kemudian menuliskannya kembali dalam bahasa sendiri. Saya tahu bahwa membaca buku teks merupakan hal yang sangat tidak menarik bagi mahasiswa Indonesia, apalagi mahasiswa zaman sekarang. Buku teks, termasuk materi kuliah, memang tidak menarik untuk dibaca, bagaimanapun cara menuliskannya. Kecuali bagi seseorang yang yang kuliah karena keinginan kuat untuk belajar, bukan sekedar untuk memperoleh gelar
Namun meskipun begitu, sebagai bagian untuk membangun literasi, dengan kerendahan hati saya minta tolong mohon kiranya berkenan dan mengunduh pustaka berikut ini:
Setiap mahasiswa akan diminta untuk menyampaikan buku apa yang sudah dibacanya dan menyampaikan ringkasan isinya melalui Laporan Melaksanakan Kuliah dan Mengerjakan Tugas.

1.1.1.3. Mengerjakan Kuis




1.1.2. MENGERJAKAN TUGAS KULIAH

1.1.2.1. Membagikan Situs Mata Kuliah dan Materi Kuliah
Sebagai mahasiswa milenial, setiap mahasiswa tentu mempunyai akun media sosial untuk tujuan menampilkan diri. Gunakan media sosial masing-masing juga untuk tujuan belajar dengan cara membagikan situs mata kuliah dengan mengklik pilihan tombol media sosial untuk membagikan blog secara keseluruhan dan membagikan setiap materi kuliah dengan mengklik tombol pilihan media sosial yang disediakan pada setiap materi kuliah. Pembagian situs mata kuliah dan materi kuliah dilakukan paling lambat pada Senin, 6 November 2023 pukul 24.00 WITACatat tautan (link) pembagian blog dan pembagian materi kuliah melalui media sosial masing-masing untuk dilaporkan dalam Laporan Melaksanakan Perkuliahan Daring. Setiap mahasiswa juga wajib menyampaikan laporan pembagian blog dan materi kuliah pada saat mengikuti ujian tengah semester.

1.1.2.2. Menyampaikan dan Menanggapi Komentar dan/atau Pertanyaan
Sampaikan minimal satu komentar dan/atau pertanyaan singkat mengenai materi kuliah ini dengan mengerikkan di dalam kotak Masukkan komentar Anda ... yang terletak di sebelah bawah materi kuliah ini dan kemudian tanggapi minimal dua komentar dan/atau pertanyaan yang disampaikan oleh mahasiswa lainnya paling lambat pada Senin, 6 November 2023 pukul 24.00 WITA. Pastikan bahwa komentar yang Anda sampaikan benar-benar berkaitan dengan materi kuliah ini dan tidak sama dengan yang telah disampaikan oleh mahasiswa lainnya. Komentar dan/atau pertanyaan yang tidak berkaitan dengan materi ini atau yang sama dengan yang telah disampaikan oleh mahasiswa lain akan diperlakukan sebagai tidak menyampaikan komentar dan/atau pertanyaan. Mahasiswa yang tidak menyampaikan tidak akan memperoleh nilai softskill mengenai materi kuliah ini.

1.1.2.3. Mengerjakan Tugas Kuliah
Untuk menuntaskan pembelajaran mata kuliah Ekologi Manusia, selain membaca materi kuliah, setiap mahasiswa juga wajib mengerjakan tugas kuliah secara kelompok. Silahkan mengunduh daftar kelompok mahasiswa dan selanjutnya sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kelompok, silahkan menemukan masyarakat berpenghidupan petani padi sawah, petani menetap, petani perladangan tebas bakar, dan petani nelayan. Silahkan melakukan wawancara terhadap minimal lima orang petani yang dipilih secara purposive di antara petani yang benar-benar memahami tipe penghidupan yang mereka lakukan. Sampaikan hal-hal berikut dengan cara sedemikian rupa sehingga menjadi mudah dipahami oleh petani:
  1. Memperkenalkan diri dan institusi untuk meminta izin agar petani berkenan menjadi narasumber dalam proses pembelajaran ekologi manusia.
  2. Meminta izin untuk melihat lahan usaha dan bertanya mengenai keadaan lahan usaha mereka.
  3. Meminta izin untuk mengambil foto dan mengambil koordinat geografik lahan usaha mereka.
Jika petani yang didekati tidak bersedia, silahkan melakukan pendekatan terhadap petani lain sampai diperoleh 3 orang petani yang bersedia menjadi narasumber. Silahkan mengerjakan Tugas Kuliah ini pada saat mengisi formulir Laporan Melaksanakan Kuliah yang tautannya diberikan di bawah ini paling lambat pada Senin, 6 November 2023 pukul 24.00 WITA.

9.3. ADMINISTRASI PELAKSANAAN KULIAH

Untuk membuktikan telah melaksanakan kuliah, setiap mahasiswa wajib mengakses, menandatangani presensi, dan mengumpulkan tugas melalui materi kuliah ini untuk kemudian disinkronisasi dengan situs SIADIKNONA. Silahkan juga mengerjakan quiz, menandatangani daftar hadir, dan memasukkan laporan melaksanakan kuliah dan mengerjakan tugas materi kuliah 1.1 ini dengan mengklik tautan di bawah ini.
  1. Menandatangani Daftar Hadir Melaksanakan Kuliah paling lambat pada Rabu, 1 November 2023 pukul 24.00 WITA dan kemudian silahkan periksa untuk memastikan telah daftar hadir telah ditandatangani,
  2. Memasukkan Laporan Melaksanakan Kuliah dan Mengerjakan Tugas paling lambat pada Senin, 6 November 2023 pukul 24.00 WITA dan kemudian silahkan periksa untuk memastikan laporan telah masuk.
untuk menunjukkan bahwa Anda telah mengikuti perkuliahan materi ini. Mahasiswa yang tidak mengisi dan memasukkan Daftar Hadir Melaksanakan Kuliah dan Laporan Melaksanakan Kuliah akan ditetapkan sebagai tidak melaksanakan kuliah.

*****
Penulis dan penyaji materi kuliah: I Wayan Mudita
Diterbitkan: 8 September 2019, direvisi pertama kali pada 1 November 2022, durevisi terakhir kali pada 23 Oktober 2023

Creative Commons License
Hak cipta selurun tulisan pada blog ini dilindungi berdasarkan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License. Silahkan mengutip tulisan dengan merujuk sesuai dengan ketentuan perujukan akademik.

No comments:

Post a Comment